Putin Respon Antisipasi Eskalasi Dengan NATO, 160.000 Pemuda Rusia Dipanggil Untuk Wajib Militer
Kudakyv – Putin Respon Antisipasi Eskalasi Dengan NATO, 160.000 Pemuda Rusia Dipanggil Untuk Wajib Militer
Rusia kembali meningkatkan kapasitas militernya sebagai respons terhadap potensi eskalasi dengan NATO. Presiden Vladimir Putin memerintahkan pemanggilan 160.000 pria berusia 18-30 tahun untuk wajib militer, jumlah tertinggi sejak 2011. Langkah ini diambil dalam rangka memperbesar kekuatan militer Rusia yang ditargetkan mencapai 2,39 juta personel dengan 1,5 juta di antaranya sebagai prajurit aktif.
Program wajib militer yang berlangsung pada musim semi ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang Rusia dalam memperkuat pertahanan negara. Menurut Wakil Laksamana Vladimir Tsimlyansky, para wajib militer ini tidak akan dikirim ke Ukraina. Namun, laporan dari berbagai sumber menyebutkan adanya kejadian di mana wajib militer Rusia ditemukan gugur dalam konflik di wilayah perbatasan dan dikirim ke medan perang Ukraina selama awal invasi.
Panggilan wajib militer yang dimulai pada April hingga Juli 2025 ini terjadi di tengah upaya Amerika Serikat untuk menengahi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Kendati demikian, kekerasan masih terus berlanjut. Pada awal April, serangan Rusia terhadap fasilitas listrik di kota Kherson mengakibatkan 45.000 warga kehilangan akses listrik. Kudakyiv melaporkan bahwa meskipun Rusia menolak kesepakatan gencatan senjata penuh yang ditawarkan AS, Moskow menyatakan kesediaannya untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina.
“Baca Juga: Putin Tolak Proposal AS Untuk Akhiri Perang Ukraina-Rusia, Trump Marah besar“
Putin Respon Antisipasi Eskalasi Dengan NATO
Sejak 2024, Rusia menaikkan batas usia maksimal wajib militer dari 27 menjadi 30 tahun, memungkinkan lebih banyak pria muda untuk masuk dalam daftar rekrutmen. Selain itu, pemberitahuan wajib militer kini dikirim tidak hanya melalui pos tetapi juga secara digital melalui situs layanan pemerintah Gosuslugi. Di Moskow, ada laporan bahwa panggilan wajib militer dikirimkan melalui situs resmi pemerintah kota.
Upaya untuk menghindari wajib militer semakin meningkat, dengan banyak pemuda Rusia memilih “layanan sipil alternatif”. Namun, menurut pengacara hak asasi manusia Timofey Vaskin, pemerintah Rusia terus mencari cara baru untuk merekrut personel militer guna memenuhi kebutuhan angkatan bersenjata.
Selain program wajib militer reguler, Rusia juga merekrut tentara kontrak dan mendatangkan ribuan personel dari Korea Utara. Menurut laporan yang diterbitkan Kudakyiv, ini merupakan langkah untuk menggantikan kerugian besar yang dialami Rusia dalam perang melawan Ukraina. Data dari BBC dan Mediazona menunjukkan lebih dari 100.000 tentara Rusia telah tewas di Ukraina, meskipun angka sebenarnya bisa lebih tinggi.
Sejak Februari 2022, Putin telah tiga kali meningkatkan jumlah pasukan militernya sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman dari Ukraina dan ekspansi NATO. Pada Desember 2023, Kementerian Pertahanan Rusia menyebut ekspansi NATO sebagai salah satu alasan utama di balik peningkatan jumlah personel militer.
Ekspansi NATO kini mencakup Finlandia dan Swedia, dua negara yang bergabung dengan aliansi sebagai reaksi langsung terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Finlandia memiliki perbatasan sepanjang 1.343 km dengan Rusia, menjadikannya garis depan utama bagi NATO.
“Simak Juga: Cara Mendukung Kesetaraan Gender di Bidang Pendidikan demi masa Depan Inklusif“
Perdana Menteri Finlandia, Petteri Orpo, menyatakan bahwa negaranya akan menarik diri dari Konvensi Ottawa yang melarang penggunaan ranjau anti-personel. Langkah ini mengikuti keputusan Polandia dan negara-negara Baltik yang telah mengambil tindakan serupa dua minggu sebelumnya sebagai respons terhadap ancaman militer Rusia.
Orpo menambahkan bahwa keputusan tersebut dibuat berdasarkan rekomendasi militer, dengan tujuan meningkatkan pertahanan nasional. Helsinki juga mengumumkan peningkatan anggaran pertahanan menjadi 3% dari PDB, naik dari 2,4% tahun sebelumnya.
Dengan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan NATO, kebijakan wajib militer di Rusia mengalami perubahan besar. Pemanggilan 160.000 pemuda untuk dinas militer mencerminkan upaya serius Moskow dalam mempertahankan kekuatan militernya. Di sisi lain, ekspansi NATO dan peningkatan pertahanan negara-negara tetangga Rusia menunjukkan bahwa situasi geopolitik masih jauh dari stabil.
Dengan berbagai faktor yang terus berkembang, peran Rusia dalam konflik global akan terus menjadi perhatian utama dunia. Kudakyv.com akan terus memberikan laporan terbaru terkait perkembangan ini.