Zelesky Ragu Janji Putin ingin Berdamai, Usai Serang Fasilitas Energi dan Medis Ukraina
Kudakyv – Zelesky Ragu Janji Putin ingin Berdamai, Usai Serang Fasilitas Energi dan Medis Ukraina
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelesky, menyatakan keraguannya terhadap janji Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang mengaku ingin berdamai. Pernyataan ini muncul setelah Rusia kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas medis dan energi di Ukraina, hanya sehari setelah Putin menyatakan setuju pada usulan gencatan senjata.
Menurut laporan Kudakyiv.com, serangan terbaru terjadi di Sumy, kota di timur laut Ukraina. Fasilitas medis yang menjadi target serangan mengalami kerusakan parah. Tim pemadam kebakaran berhasil mengevakuasi 147 pasien, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan gerak. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
“Baca Juga: Putin Tolak Gencatan Senjata Ukraina, Rusia Tak Ingin Akhiri Perang“
Zelesky secara terbuka menyatakan bahwa tindakan Rusia menunjukkan ketidakkonsistenan dengan pernyataan damai yang disampaikan oleh Putin. Pada Rabu malam, Kementerian Pertahanan Ukraina melaporkan adanya serangan rudal dan pesawat nirawak yang menewaskan satu orang serta merusak dua rumah sakit di wilayah Dnipropetrovsk.
“Kata-kata Putin tentang perdamaian bertentangan dengan kenyataan di lapangan. Serangan ini adalah bukti bahwa Rusia belum menunjukkan komitmen yang tulus,” ujar Zelesky seperti dikutip oleh Kudakyiv.com.
Serangan terhadap infrastruktur energi juga memperburuk situasi bagi warga sipil Ukraina yang bergantung pada pasokan listrik dan air. Para pejabat Ukraina mengutuk tindakan ini sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Putin bersama Donald Trump mendapat respons skeptis dari para pemimpin Eropa. Mereka berpendapat bahwa gencatan senjata yang tidak dilandasi itikad baik hanya akan memberikan keuntungan sepihak bagi Rusia.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menegaskan bahwa tuntutan Kremlin terhadap Ukraina tidak mencerminkan niat untuk mencapai perdamaian yang adil. Putin meminta Ukraina menghentikan aktivitas militernya, sementara Rusia terus memperkuat posisinya di medan perang.
“Jelas bahwa Rusia tidak berniat membuat konsesi apa pun. Gencatan senjata seperti ini hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat Ukraina,” ujar Kallas.
Menurut Kudakyiv.com, para pemimpin Eropa menekankan bahwa solusi damai yang sejati harus menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina. Mereka menegaskan bahwa memberikan Rusia jeda militer tanpa jaminan penghentian serangan akan memperburuk situasi.
“Simak Juga: Pesona Gaun Tenun Kediri Karya Desainer Surabaya Lia Afif x Soklin Hijab“
Di tengah ketegangan yang semakin memanas, Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Ukraina. Washington menyatakan bahwa perdamaian yang berkelanjutan harus berdasarkan prinsip keadilan.
Pemerintah Amerika juga mengingatkan bahwa segala bentuk gencatan senjata yang tidak menguntungkan Ukraina akan dianggap sebagai taktik Rusia untuk memperkuat kekuatan militernya. Bantuan militer dan intelijen kepada Kyiv dipastikan akan berlanjut selama konflik belum menemukan solusi yang adil.
Dalam kondisi seperti ini, Zelesky menegaskan bahwa Ukraina akan terus memperjuangkan kedaulatannya. Dukungan internasional menjadi faktor krusial dalam menghadapi agresi Rusia yang berkelanjutan.
Untuk mendapatkan berita terbaru seputar konflik Rusia-Ukraina, kunjungi Kudakyiv.com dan ikuti perkembangan lebih lanjut.