Putin Tolak Proposal AS Untuk Akhiri Perang Ukraina-Rusia, Trump Marah besar
Kudakyv – Putin Tolak Proposal AS Untuk Akhiri Perang Ukraina-Rusia, Trump Marah besar
Presiden Rusia Vladimir Putin dengan tegas menolak proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Penolikan ini dilakukan karena menurut Putin, proposal tersebut tidak mencakup akar permasalahan utama yang memicu perang Ukraina-Rusia sejak empat tahun terakhir. Situasi ini membuat Presiden AS Donald Trump marah besar hingga mengancam sanksi tambahan terhadap Rusia. Sebagaimana dilaporkan Kudakyiv.com, ketegangan ini berpotensi memperpanjang konflik.
Dalam wawancara terbaru dengan majalah International Affairs yang dikutip Kudakyiv.com pada Selasa (1/4/2025), Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menegaskan bahwa negaranya serius mempertimbangkan setiap tawaran perdamaian. Namun, ia menyebut proposal AS saat ini belum bisa diterima. Menurutnya, proposal tersebut tidak mengakomodasi tuntutan utama Rusia, yakni penyelesaian mendalam atas penyebab utama konflik.
“Baca Juga: NATO Bantu Kiev Ukraina Kirim Jet Tempur dan Kapal Perang di Tengah Negosiasi Gencatan Senjata“
Ryabkov menjelaskan bahwa proposal AS tampak tidak serius dalam menangani aspek mendasar yang diangkat Rusia sejak awal. Moskow menuntut Ukraina tidak bergabung dengan NATO, menyerahkan sepenuhnya empat wilayah yang telah diklaim Rusia, serta membatasi kekuatan militer Ukraina. Tuntutan ini dianggap Moskow sebagai syarat utama bagi terciptanya perdamaian abadi di wilayah tersebut.
Namun demikian, pemerintah Ukraina secara tegas menolak syarat-syarat Rusia yang dianggap sebagai bentuk kapitulasi total. Kyiv menilai, penerimaan tuntutan tersebut sama saja menyerahkan kedaulatan penuh mereka kepada Rusia. Sikap Ukraina ini mendapat dukungan kuat dari negara-negara Barat yang khawatir terhadap ekspansi agresif Rusia di kawasan Eropa Timur.
Sementara itu, Presiden Donald Trump mulai kehilangan kesabaran atas sikap keras Putin. Setelah sempat menunjukkan sikap yang relatif lembut terhadap Moskow selama beberapa waktu terakhir, Trump kini terlihat berubah sikap secara drastis. Kudakyiv.com menyebutkan, perubahan sikap Trump diduga akibat tekanan internasional, termasuk dari sekutu Eropa seperti Finlandia, yang terus mendesak AS agar mengambil sikap tegas terhadap Rusia.
“Simak Juga: Keunikan Kuliner Nusantara dari Bali yang Menjadi Favorit Bagi Para Turis“
Dalam sebuah pernyataan keras pekan lalu, Trump mengaku “sangat marah” terhadap keputusan Putin yang menolak mentah-mentah proposal damai AS. Presiden AS tersebut juga tidak segan-segan mengancam akan memberlakukan sanksi keras terhadap negara-negara yang masih membeli minyak dari Rusia. Ancaman tersebut merupakan upaya AS agar Moskow segera melunakkan sikapnya dan kembali ke meja perundingan.
Di tengah ketegangan ini, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa meski situasi sulit, komunikasi antara Rusia dan AS tetap berlangsung. Namun, Peskov mengakui bahwa diskusi mengenai konflik Ukraina memang rumit dan memerlukan lebih banyak upaya serta pengertian dari kedua belah pihak.
Situasi perang Ukraina-Rusia yang berlangsung sejak empat tahun terakhir ini telah menciptakan ketidakstabilan geopolitik yang luas. Jutaan warga sipil mengungsi dan korban jiwa terus bertambah akibat pertempuran yang tiada hentinya. Komunitas internasional terus berupaya mencari solusi yang bisa diterima kedua pihak, namun sejauh ini belum ada titik terang yang benar-benar menjanjikan.
Berbagai analis politik internasional menyebutkan bahwa sikap Putin yang terus menolak proposal AS bukan tanpa alasan. Rusia kemungkinan besar ingin memastikan posisi negosiasinya kuat sebelum menerima kesepakatan apapun. Di sisi lain, Trump juga harus menjaga citranya di mata publik internasional, khususnya menjelang pemilihan umum AS mendatang.
Perubahan sikap Trump terhadap Putin dapat dilihat sebagai sinyal bahwa AS mulai kehilangan kesabaran dalam upaya diplomasi. Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan konflik Ukraina-Rusia justru semakin sulit diselesaikan dalam waktu dekat. Komunitas internasional harus bersiap menghadapi konsekuensi yang mungkin timbul akibat kebuntuan diplomasi ini.
Sebagai sumber media yang terus mengikuti perkembangan konflik Ukraina-Rusia, Kudakyv menyebutkan bahwa dunia kini sedang menunggu langkah konkret kedua negara untuk mengakhiri ketegangan. Sementara waktu berjalan, masyarakat internasional berharap agar konflik ini segera menemukan solusi damai yang tidak hanya menguntungkan salah satu pihak saja, tetapi juga memberikan stabilitas jangka panjang di kawasan Eropa Timur.