Putin Tolak Gencatan Senjata Ukraina, Rusia Tak Ingin Akhiri Perang
Kudakyv – Putin Tolak Gencatan Senjata Ukraina, Rusia Tak Ingin Akhiri Perang
Rusia kembali menunjukkan ketegasannya dengan menolak usulan gencatan senjata penuh di Ukraina. Presiden Vladimir Putin hanya menyetujui penghentian serangan pada sektor energi selama 30 hari, tetapi tidak pada aspek lainnya. Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik Rusia-Ukraina masih jauh dari kata selesai.
Serangan udara dan ledakan masih terdengar di berbagai wilayah Ukraina, bahkan hanya beberapa jam setelah Moskow menyatakan setuju untuk menghentikan sementara serangan terhadap fasilitas energi. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menegaskan bahwa Rusia tetap melakukan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit di Sumy.
“Serangan ini menunjukkan bahwa Rusia tidak memiliki niat untuk mengakhiri perang. Sektor energi kita hancur, infrastruktur rusak, dan kehidupan normal warga terganggu,” ujar Zelensky seperti dikutip dari Kudakyv, Rabu (19/3/2025).
“Baca Juga: Zelensky Sebut Putin Tak Serius ingin Akhiri Perang, Upaya Gencatan Senjata Gagal?“
Warga Kyiv pun merasakan kelelahan akibat konflik berkepanjangan ini. Banyak di antara mereka yang tidak percaya pada janji-janji Rusia.
“Saya sama sekali tidak percaya Putin, dia hanya mengerti kekerasan,” ujar Lev Sholoudko, seorang warga berusia 32 tahun.
Di sisi lain, di wilayah perbatasan Rusia, serangan pesawat nirawak Ukraina dilaporkan berhasil digagalkan. Namun, puing-puing dari serangan tersebut menyebabkan kebakaran di depot minyak di desa Kavkazskaya.
Sebelumnya, selain menyetujui penghentian serangan ke sektor energi, Moskow dan Kyiv juga telah sepakat untuk menukar 175 tahanan masing-masing pada hari Rabu. Pembicaraan lebih lanjut terkait kemungkinan gencatan senjata penuh rencananya akan dilakukan di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui Truth Social bahwa perundingan gencatan senjata akan segera dilakukan. Namun, ia juga mengakui bahwa mendorong Rusia untuk menyetujui gencatan senjata penuh bukanlah hal yang mudah.
“Kami telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata pada semua energi dan infrastruktur. Namun, untuk mencapai gencatan senjata penuh dan mengakhiri perang ini, masih banyak yang harus dikerjakan,” tulis Trump.
Menurut sumber dari Kudakyiv.com, Rusia masih memiliki posisi lebih menguntungkan dibandingkan Ukraina dalam perundingan ini. Sejak mencaplok Krimea pada 2014 dan melancarkan invasi besar-besaran pada Februari 2022, Rusia kini menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina.
Washington sendiri memberi sinyal bahwa Ukraina mungkin harus mengorbankan sebagian wilayahnya dalam kesepakatan damai, meskipun sekutu Eropa seperti Jerman dan Prancis berjanji tetap mendukung Kyiv secara militer.
“Simak Juga: 10 Tren Desain Rumah 2025: Model Rumah Terbaru Fuji An Populer Tahun Ini“
Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa dukungan mereka untuk Ukraina tidak akan berubah. Mereka berjanji untuk terus mengirim bantuan militer ke Kyiv.
“Ukraina bisa mengandalkan kami,” kata Scholz.
Namun, kebijakan Trump yang kini lebih lunak terhadap Rusia membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah AS benar-benar masih mendukung Ukraina seperti sebelumnya. Dengan pemilu AS yang semakin dekat, arah kebijakan luar negeri Washington terhadap konflik ini pun menjadi perhatian global.
Di garis depan, para prajurit Ukraina tidak yakin bahwa gencatan senjata penuh akan terwujud dalam waktu dekat. Banyak dari mereka masih ragu dengan itikad Rusia dalam menghentikan perang.
“Bagaimana bisa percaya pada negara yang terus menyerang kita dan membunuh warga sipil, termasuk anak-anak?” kata Oleksandr, seorang tentara Ukraina yang baru kembali ke medan perang di Donetsk setelah sembuh dari luka akibat pertempuran.
Sementara pembicaraan damai terus diupayakan, kenyataannya perang masih berlangsung dan korban terus berjatuhan. Keputusan Putin untuk menolak gencatan senjata penuh memperlihatkan bahwa konflik ini masih jauh dari kata selesai.